interpnn – Pemerintah Rusia resmi memblokir Roblox setelah menemukan konten yang dianggap berbahaya bagi ruang digital negara. Kebijakan ini menandai langkah baru Rusia dalam memperketat pengawasan platform asing.
Roskomnadzor menyatakan Roblox gagal menahan penyebaran konten yang dikategorikan sebagai propaganda LGBT, ekstremisme, dan terorisme. Badan tersebut menilai banyak materi bermasalah muncul dari ruang permainan buatan pengguna. Mereka menilai ruang tersebut memungkinkan aksi virtual seperti simulasi serangan sekolah, kegiatan teror, dan praktik perjudian. Rusia sebelumnya juga memperingatkan Roblox pada November 2025 karena masalah moderasi serupa.
“Roblox menyebarkan materi ekstremis, ajakan tindakan ilegal, dan propaganda LGBT,” kata Roskomnadzor. Mereka menegaskan bahwa pembatasan dilakukan untuk melindungi keamanan digital nasional. Dalam laporan BleepingComputer, pihak regulator menuturkan bahwa pelanggaran terjadi secara berulang.
Roblox menanggapi keputusan ini dengan menyatakan komitmen terhadap keamanan pengguna. Perwakilan perusahaan menegaskan kesediaan mereka mematuhi hukum lokal. Mereka juga menyebut telah menerapkan langkah proaktif untuk mencegah munculnya konten berbahaya di platform.
Langkah pemblokiran ini sejalan dengan kebijakan digital Rusia yang terus membatasi layanan asing. Interfax melaporkan bahwa WhatsApp sedang dipertimbangkan untuk diblokir setelah Viber dan Signal ditutup. Sejak 2023, pemerintah juga telah melarang lembaga negara memakai aplikasi pesan asing untuk memperkuat perlindungan data nasional.
Pemblokiran Roblox menunjukkan arah kebijakan Rusia yang makin ketat terhadap platform global. Langkah ini juga dapat memengaruhi strategi perusahaan teknologi dalam menyesuaikan diri dengan regulasi digital setiap negara.
Baca Juga: “Manfaat Jalan Kaki untuk Jantung dan Metabolisme“
Rusia memblokir Roblox : Kebijakan Verifikasi Usia Roblox Picu Kritik soal Akurasi dan Keamanan Data Pengguna
Roblox kembali menuai sorotan setelah memperkenalkan kebijakan verifikasi usia berbasis swafoto dan identitas resmi. Aturan ini dirilis di tengah meningkatnya kritik publik terhadap maraknya kasus predator anak di platform tersebut.
Roblox menawarkan dua metode verifikasi, yaitu pemindaian wajah dan unggahan identitas pribadi. Perusahaan menyebut prosesnya bersifat sukarela, namun pengguna tanpa verifikasi tidak bisa mengakses fitur dasar seperti chat. Setelah diverifikasi, akun akan ditempatkan ke enam kelompok usia, mulai dari bawah 9 tahun hingga 21 tahun ke atas. Interaksi antar kelompok juga dibatasi dan hanya dapat dilakukan lewat fitur Trusted Connection.
Kebijakan ini menuai kritik karena banyak pengguna menilai penjelasan sistem verifikasi kurang jelas. Pemindaian wajah menggunakan kamera aplikasi dan diproses oleh perusahaan pihak ketiga bernama Persona. Menurut laporan The Verge, beberapa pengguna mengaku hasil estimasi usia tidak akurat. Ada pemain dewasa diklasifikasikan sebagai anak, sementara pengguna di bawah umur lolos sebagai orang dewasa. “Saya sudah 23 tahun, tapi Roblox bilang saya 13 tahun,” tulis seorang pemain di forum. Pada kasus lain, orangtua melaporkan anaknya masuk kategori dewasa meski baru berusia 11 tahun.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran soal keamanan data wajah dan identitas pengguna. Publik mempertanyakan bagaimana Persona menyimpan dan memproses informasi sensitif tersebut. Aturan baru ini akan mulai diterapkan bertahap pada Desember 2025 di Australia, Belanda, dan Selandia Baru. Implementasi global dijadwalkan pada Januari 2026.
Roblox menegaskan kebijakan ini dibuat untuk memperketat keamanan fitur chat yang sering menerima kritik keras. Wakil Presiden Roblox, Rajiv Bhatia, menyebut kebijakan tersebut dirancang agar interaksi antar pengguna lebih aman dan sesuai kelompok usia.
Kebijakan ini diperkirakan membentuk standar baru moderasi usia di platform gim global, meski efektivitasnya masih menjadi tantangan bagi Roblox.
Baca Juga : “Inovasi Kopi 2025: Batas Aman Kafein Kini Dijelaskan“





Leave a Reply