interpnn – Olahraga tidak harus langsung dengan intensitas tinggi. Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, Mayrovi Dewi Nyuyorike Djati, menegaskan bahwa langkah terbaik bagi pemula adalah memulai dari intensitas rendah dan meningkatkannya secara bertahap. Pendekatan ini membantu tubuh beradaptasi, mengurangi risiko cedera, dan menjaga konsistensi berolahraga.
Menurut Mayrovi, masyarakat dengan jadwal padat tetap bisa berolahraga dengan menyisihkan 75 hingga 150 menit per minggu. Waktu tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sesi sesuai kemampuan. “Latihan bisa dibagi beberapa kali dalam seminggu untuk menjaga intensitas sedang. Jika waktu sangat terbatas, lakukan minimal 75 menit per minggu,” jelasnya dalam siaran langsung Talkshow Keluarga Sehat di akun Instagram Kemenkes RI, Senin, 3 November 2025.
Ia menambahkan, terdapat dua jenis latihan utama yang sebaiknya dilakukan bergantian. Pertama, olahraga resisten seperti angkat beban, yang cukup dilakukan dua hingga tiga kali seminggu untuk melatih kekuatan otot. Kedua, olahraga kardio seperti jogging, bersepeda, atau berenang, yang bisa dilakukan setiap hari namun idealnya hanya lima kali seminggu agar tubuh mendapat waktu istirahat.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, aktivitas fisik minimal 30 menit per hari mampu menurunkan risiko penyakit jantung hingga 25 persen. Karena itu, menjaga rutinitas olahraga dengan intensitas sesuai kemampuan sangat penting bagi kesehatan jangka panjang.
Mayrovi menegaskan, olahraga bukan sekadar rutinitas, tetapi investasi untuk masa depan tubuh yang lebih sehat dan bugar. Dengan konsistensi dan perencanaan yang tepat, kesibukan bukan lagi alasan untuk menunda olahraga.
Baca Juga: “Jalan Kaki Bisa Turunkan Risiko Penyakit Jantung“
Pentingnya Pemulihan dan Asupan Protein Setelah Olahraga
Berolahraga tidak hanya soal latihan fisik, tetapi juga tentang bagaimana tubuh memulihkan diri setelahnya. Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, Mayrovi Dewi Nyuyorike Djati, menjelaskan bahwa aktivitas olahraga, terutama latihan resisten seperti angkat beban, dapat menyebabkan mikrotrauma pada serat otot. Proses ini wajar terjadi dan justru bagian dari pembentukan otot yang sehat, selama tubuh diberi waktu cukup untuk pemulihan.
Menurut Mayrovi, fase istirahat sangat penting agar otot bisa memperbaiki sel-sel yang mengalami mikrotrauma. “Kita butuh pengembalian kembali otot-otot yang sudah terbentuk. Mikrotrauma itu bisa diperbaiki dengan istirahat dan asupan gizi, terutama protein,” jelasnya dalam acara Talkshow Keluarga Sehat Kemenkes RI, Senin, 3 November 2025.
Ia menambahkan, durasi olahraga ideal adalah sekitar dua jam per sesi, termasuk tiga kali latihan berdurasi 30 menit dan waktu istirahat di antaranya. Latihan minimal 30 menit mampu membakar energi cukup besar, sehingga tubuh memerlukan makanan dan minuman bergizi untuk mengembalikan stamina.
Mayrovi menekankan bahwa protein merupakan zat paling penting setelah olahraga karena berperan dalam memperbaiki jaringan otot. Selain itu, air putih tetap harus dikonsumsi dalam jumlah cukup untuk menjaga hidrasi tubuh. Alternatif lainnya, seperti air kelapa atau minuman isotonik, dapat membantu mengganti mineral yang hilang selama berolahraga.
“Minuman isotonik masih bisa dikonsumsi setelah olahraga karena membantu mengembalikan mineral. Namun, protein tetap yang utama,” pungkasnya.
Dengan kombinasi latihan teratur, istirahat cukup, dan asupan bergizi seimbang, manfaat olahraga akan lebih optimal dan membantu menjaga kebugaran tubuh jangka panjang.
Baca Juga: “Menkeu Purbaya Siapkan Strategi Baru Atasi Rokok Ilegal“





Leave a Reply