Presiden Kolombia Usir Diplomat Israel Usai Insiden Flotilla
interpnn – Presiden Kolombia Gustavo Petro mengambil langkah tegas dengan mengusir seluruh diplomat Israel yang masih berada di negaranya. Keputusan ini diambil setelah insiden penahanan armada bantuan kemanusiaan menuju Gaza oleh otoritas Israel.
Armada yang dikenal sebagai Global Flotilla dicegat saat berada di perairan internasional. Dua warga Kolombia, Manuela Bedoya dan Luna Barreto, termasuk di antara para aktivis dalam rombongan tersebut. Mereka terlibat dalam misi solidaritas kemanusiaan untuk Palestina.
Petro menyampaikan bahwa kedua perempuan itu ditahan oleh pasukan Israel saat membawa bantuan melalui Armada Sumud Global. Ia menilai tindakan tersebut melanggar hukum internasional karena terjadi di luar wilayah yurisdiksi Israel.
Dalam pernyataannya, kantor kepresidenan menyerukan pembebasan segera kedua aktivis itu. Petro menekankan pentingnya penghormatan terhadap hak asasi manusia dan misi kemanusiaan sipil.
Pengusiran diplomat ini menandai puncak ketegangan hubungan Kolombia-Israel dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, Petro telah mengkritik operasi militer Israel di Gaza dan mendukung pengiriman bantuan ke wilayah tersebut.
Langkah terbaru ini berpotensi memicu respons diplomatik dari Israel dan sekutu globalnya. Pemerhati hubungan internasional menilai tindakan Petro dapat memengaruhi posisi Kolombia di forum global.
Pihak otoritas internasional, termasuk organisasi HAM, diperkirakan akan mengikuti perkembangan kasus ini. Tekanan untuk membebaskan para aktivis dan menjamin kelancaran bantuan kemanusiaan kemungkinan meningkat dalam waktu dekat.
Baca Juga : “Jay Idzes Jadi Pemain Termahal Timnas Indonesia“
Presiden Kolombia Usir Diplomat Israel, Hubungan Kolombia-Israel Memburuk Usai Flotilla dan Pernyataan Petro
Israel melalui Kementerian Luar Negeri mengonfirmasi bahwa beberapa kapal dalam armada bantuan menuju Gaza telah dihentikan. Para penumpang kini dibawa ke pelabuhan Israel untuk proses lebih lanjut.
Empat diplomat Israel masih berada di Kolombia meskipun hubungan kedua negara telah diputus tahun lalu. Informasi ini disampaikan sumber konsulat Israel di Bogota kepada AFP.
Presiden Gustavo Petro menulis di platform X dan mengumumkan pengusiran seluruh delegasi diplomatik Israel. Ia menuding Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melakukan “kejahatan internasional baru”.
Selain langkah diplomatik, Petro juga menghentikan perjanjian perdagangan bebas yang berlaku sejak 2020. Kesepakatan tersebut sebelumnya menjadi dasar hubungan ekonomi kedua negara.
Petro dikenal sebagai salah satu pengkritik paling vokal terhadap Netanyahu. Ia pernah menyebut Netanyahu sebagai pelaku “genosida” dan menyebut Donald Trump sebagai pendukung tindakan tersebut.
Pekan lalu, Petro menghadiri aksi pro-Palestina di New York. Dalam orasinya, ia meminta militer Amerika Serikat untuk tidak mematuhi Trump.
Pernyataan itu memicu respons keras dari Washington. Pemerintah AS mencabut visa Petro sebagai bentuk sanksi diplomatik.
Ketegangan antara Kolombia, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi meningkat. Langkah Petro bisa berdampak pada hubungan perdagangan, politik, dan dukungan internasional di masa mendatang.
Baca Juga: “Negara G7 Tegaskan Larangan Senjata Nuklir untuk Iran”