interpnn – Amerika Serikat (AS) dan China sepakat membentuk jalur komunikasi militer-ke-militer. Tujuannya adalah memperkuat stabilitas di kawasan Indo-Pasifik. Kesepakatan ini diumumkan oleh Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, pada Minggu (2/11/2025). Ia berbicara dengan mitranya dari Tiongkok, Laksamana Dong Jun, di sela-sela pertemuan keamanan regional.
Hegseth menegaskan bahwa perdamaian, stabilitas, dan hubungan baik adalah jalan terbaik bagi kedua negara. Selain itu, ia menyebutkan bahwa dialog langsung antar militer dapat mencegah salah paham yang memicu konflik. Hal ini menjadi penting terutama di Laut China Selatan yang terus menjadi sumber ketegangan.
Dalam pernyataannya di platform X, Hegseth menyoroti tindakan China yang memperburuk situasi di perairan tersebut. “Klaim teritorial dan maritim Tiongkok yang luas bertentangan dengan komitmen penyelesaian sengketa secara damai,” ujarnya, dikutip dari Associated Press. Oleh karena itu, ia meminta negara-negara ASEAN untuk memperkuat kekuatan maritim mereka. Tujuannya agar tidak terintimidasi oleh tindakan sepihak Beijing.
Laut China Selatan merupakan titik panas antara AS, China, dan negara-negara ASEAN seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darussalam. China mengklaim hampir seluruh wilayah laut tersebut. Sementara itu, Filipina, sebagai sekutu utama AS, terus mendesak respons regional yang lebih tegas.
Kesepakatan ini menjadi langkah penting setelah beberapa tahun ketegangan meningkat. Dengan adanya jalur komunikasi langsung, risiko salah tafsir di lapangan bisa berkurang. Selain itu, ini membuka peluang baru bagi diplomasi keamanan di Asia.
Baca Juga: “BLACKPINK Gelar Konser di GBK, Pengamanan Diperketat“
AS Tegaskan Diplomasi dan Pencegahan di Laut China Selatan
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menekankan keseimbangan antara diplomasi dan pencegahan ketegangan dengan China di Laut China Selatan. Ia menyatakan bahwa hubungan AS-Tiongkok saat ini berada pada titik yang relatif stabil. Hegseth juga berbicara dengan Presiden Donald Trump, dan keduanya sepakat bahwa hubungan kedua negara belum pernah sebaik ini.
Dalam pernyataan di X, Hegseth menyoroti pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan. “Pertemuan ini membuka babak baru menuju perdamaian dan kesuksesan yang langgeng antara AS dan Tiongkok,” ujarnya. Ia meninggalkan Malaysia pada Minggu untuk melanjutkan kunjungan ke Vietnam, menunjukkan pentingnya koordinasi regional.
Hegseth sebelumnya mengkritik deklarasi Beijing yang menjadikan Karang Scarborough sebagai cagar alam, menyebutnya sebagai langkah memaksakan klaim teritorial baru. Ia mendesak ASEAN mempercepat kode etik maritim yang sedang dinegosiasikan, sekaligus mengusulkan sistem pengawasan dan tanggap cepat bersama untuk mencegah provokasi. “Melalui jaringan kesadaran domain maritim bersama, setiap negara anggota yang menghadapi agresi tidak akan dibiarkan sendirian,” jelas Hegseth.
Analis politik Asia Tenggara, Bridget Welsh, menilai pernyataan Hegseth menunjukkan adanya dua pandangan di pemerintahan AS: satu melihat China sebagai ancaman, dan satu lagi sebagai mitra potensial. Hegseth juga menyambut rencana latihan maritim ASEAN-AS pada Desember untuk memperkuat koordinasi dan menegakkan kebebasan navigasi.
Tanggapan Beijing menegaskan bahwa patroli dan konstruksi mereka sah secara hukum. Pejabat China menuding Filipina sebagai “pembuat onar” setelah latihan militer bersama AS, Australia, dan Selandia Baru di Laut China Selatan. Tian Junli, juru bicara Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat, menyatakan latihan itu merusak perdamaian dan stabilitas kawasan.
Langkah AS ini mencerminkan strategi ganda: mencegah eskalasi konflik sekaligus memperkuat diplomasi regional. Ke depan, jalur komunikasi militer dan latihan gabungan diperkirakan akan menjadi kunci menjaga stabilitas Laut China Selatan.
Baca Juga: “Thailand Peringatkan Israel soal Etika Turis di Negeri Gajah Putih“





Leave a Reply