The Fed Pangkas Suku Bunga, Sinyal Baru Untuk Desember

Suku Bunga AS Turun Lagi, The Fed Beri Sinyal Desember 2025

interpnn – Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%. Keputusan ini diumumkan dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akhir Oktober 2025. Langkah tersebut menandai pemangkasan kedua berturut-turut tahun ini dan membawa suku bunga ke level terendah sejak November 2022.

Pemangkasan dilakukan karena kekhawatiran terhadap melambatnya pasar tenaga kerja lebih besar dibanding risiko inflasi. Penutupan sementara pemerintahan federal yang hampir sebulan membuat data ekonomi resmi tertunda, sehingga mempersempit ruang analisis The Fed terhadap kondisi ketenagakerjaan.

Ekonom menilai keputusan ini dapat membuka peluang pemangkasan lebih lanjut pada akhir tahun. Namun, minimnya data resmi membuat arah kebijakan ke depan masih belum pasti. “Pelemahan di pasar tenaga kerja tampaknya tidak semakin cepat,” ujar Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa penurunan imigrasi turut membuat pasar tenaga kerja menjadi kurang dinamis.

Menurut data ADP, perekonomian AS kehilangan sekitar 32.000 lapangan kerja pada September 2025. Angka ini menandakan tren perekrutan yang melambat di sektor swasta. Meski begitu, tingkat pengangguran nasional masih tergolong rendah dibanding periode pra-pandemi.

Analis memperkirakan langkah The Fed akan berdampak pada pasar global, terutama terhadap nilai tukar dolar AS dan arus modal negara berkembang. Investor kini menunggu sinyal baru pada pertemuan Desember, yang kemungkinan menjadi penentu arah kebijakan moneter AS menjelang 2026.

Baca Juga: “Geng Narkoba Brasil Dihancurkan Polisi, 121 Tewas

Suku Bunga AS, Wall Street Pangkas Taruhan, The Fed Beri Sinyal Hati-Hati Jelang Desember

Ekspektasi Wall Street terhadap pemangkasan suku bunga 25 basis poin oleh The Fed pada Desember 2025 mulai memudar. Hal ini terjadi setelah Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa keputusan pemangkasan lanjutan belum menjadi kesimpulan pasti. Ia menilai langkah ke depan akan bergantung pada data ekonomi yang masuk dalam beberapa minggu mendatang.

Deputy Chief US Economist Oxford Economics, Michael Pearce, menyebut situasi kebijakan The Fed kini semakin kompleks. “Pergerakan ke depan menjadi lebih kontroversial,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa The Fed kemungkinan akan memperlambat laju pemangkasan suku bunga setelah dua kali pemotongan berturut-turut.

Sementara itu, ekonom JP Morgan, Michael Feroli, menilai keputusan The Fed akan sangat bergantung pada laporan ketenagakerjaan berikutnya. “Bank sentral AS kemungkinan akan menerima tiga laporan pekerjaan baru sebelum rapat Desember,” katanya. Data tersebut dapat mengubah pandangan pasar secara signifikan terhadap kondisi tenaga kerja.

Powell menegaskan, ketidakpastian meningkat karena penutupan sementara pemerintah AS menghambat ketersediaan data resmi. Ia menggambarkan situasi ini seperti “mengemudi dalam kabut,” sehingga langkah paling bijak adalah memperlambat laju kebijakan. Ia juga menyoroti perbedaan pandangan di antara anggota FOMC yang menilai arah kebijakan dari sudut ekonomi berbeda.

Federal funds rate sendiri menjadi instrumen utama The Fed dalam mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi AS. Perubahan kecil dalam suku bunga ini dapat memengaruhi biaya pinjaman, investasi, dan konsumsi secara luas, serta memicu reaksi global. Para analis memperkirakan pertemuan Desember akan menjadi penentu arah kebijakan moneter AS pada awal 2026.

Baca Juga: “Kurs Dolar AS Lesu, Rupiah Menguat ke 16.610

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *