Shutdown Pemerintah AS Terpanjang, Ekonomi Terguncang

Shutdown Pemerintah AS Terpanjang, Ekonomi Terguncang

interpnn – Shutdown pemerintahan terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat akhirnya mendekati akhir setelah Senat mencapai kesepakatan bipartisan. Delapan anggota Partai Demokrat dan pimpinan Partai Republik sepakat membuka kembali pemerintahan yang telah lumpuh lebih dari satu bulan. Penutupan ini menyebabkan ratusan ribu pegawai federal tidak menerima gaji dan berbagai layanan publik terhenti. Bandara mengalami kekurangan staf, sementara program bantuan pangan penting seperti SNAP terhenti.

Menurut laporan EY Parthenon, shutdown ini menghapus hampir satu bulan pertumbuhan ekonomi normal AS. Kepala Ekonom EY Parthenon, Gregory Daco, menjelaskan bahwa dampaknya setara dengan kerugian output sekitar USD 55 miliar atau Rp 919,22 triliun. Setiap perpanjangan satu minggu shutdown diperkirakan menimbulkan kerugian tambahan USD 7 miliar dan menekan pertumbuhan PDB sebesar 0,1 poin persentase. Jika berlangsung hingga dua bulan, ekonomi AS dapat kehilangan hingga 2,0 poin persentase dari pertumbuhannya.

Selain memperlambat pertumbuhan, shutdown juga menghambat publikasi data ekonomi penting seperti ketenagakerjaan, inflasi, dan perdagangan. Kondisi ini membuat Federal Reserve sulit menentukan arah kebijakan suku bunga karena minimnya data akurat. Daco menegaskan, “Tanpa dua laporan ketenagakerjaan berturut-turut, pemerintah tidak memiliki pembacaan resmi tentang kondisi pasar tenaga kerja.”

Meski pemulihan diperkirakan terjadi setelah pemerintahan dibuka kembali, sebagian kerugian ekonomi dipastikan tidak dapat pulih. Aktivitas konsumtif seperti perjalanan, makan di luar, dan layanan publik yang tertunda menimbulkan kehilangan permanen sekitar 20% dari total dampak ekonomi. Shutdown ini menjadi peringatan serius tentang rapuhnya stabilitas ekonomi akibat kebuntuan politik di negara adidaya tersebut.

Baca Juga: “Dokter Peringatkan Bahaya Hentikan Antibiotik Terlalu Cepat

Harga Minyak Dunia Naik Tipis di Tengah Harapan Berakhirnya Shutdown AS dan Kekhawatiran Pasokan Global

Harga minyak dunia bergerak naik tipis pada awal pekan ini seiring meningkatnya optimisme terhadap berakhirnya penutupan pemerintahan Amerika Serikat. Kondisi tersebut menumbuhkan harapan akan pulihnya permintaan energi di negara konsumen minyak terbesar dunia. Kenaikan ini juga menahan tekanan pasar akibat kekhawatiran meningkatnya pasokan global.

Dikutip dari CNBC, Selasa (11/11/2025), harga minyak mentah Brent naik USD 0,43 atau 0,68% menjadi USD 64,06 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik USD 0,38 atau 0,64% ke USD 60,13 per barel. Senat AS pada Minggu melanjutkan langkah membuka kembali pemerintahan federal setelah penutupan selama 40 hari yang menghambat bantuan pangan dan perjalanan udara.

Analis PVM, Tamas Varga, menyebut kesepakatan di Senat menjadi sinyal positif bagi pasar energi global. “Langkah ini membantu mengembalikan selera risiko dan memperbaiki sentimen investor terhadap permintaan minyak,” ujarnya. Namun, pasar masih dibayangi kekhawatiran atas pembatalan lebih dari 2.800 penerbangan dan penundaan 10.200 penerbangan di AS akibat dampak shutdown terhadap sektor transportasi.

Meskipun harga naik, Brent dan WTI masih mencatat penurunan sekitar 2% pada pekan sebelumnya. Penurunan dipicu kekhawatiran kelebihan pasokan menyusul keputusan OPEC+ untuk menambah produksi pada Desember. Sementara itu, cadangan minyak mentah AS meningkat dan volume minyak yang disimpan di perairan Asia dilaporkan berlipat ganda dalam beberapa minggu terakhir.

Krisis pasokan Rusia turut memperburuk ketidakpastian. Kilang Tuapse di Laut Hitam menghentikan ekspor bahan bakar setelah serangan drone. Selain itu, produsen Lukoil menghadapi risiko gangguan operasional karena tenggat waktu sanksi AS pada 21 November semakin dekat. Analis memperkirakan volatilitas harga minyak masih tinggi hingga ketegangan geopolitik dan pasokan global menunjukkan tanda stabil.

Baca Juga : “Rambut Sehat dan Tebal: Simak Cara Efektif Cegah Rontok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *