Pengusaha Tekstil: Temui Purbaya, Pastikan Tak Ada PHK

Pengusaha Tekstil: Temui Purbaya, Pastikan Tak Ada PHK

interpnn Pengusaha tekstil yang tergabung dalam Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI) menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan pemerintah yang membatasi impor produk tekstil bekas atau thrifting. Langkah ini dianggap sangat tepat karena melindungi industri garmen lokal dari persaingan tidak sehat serta menjaga keberlanjutan ekonomi nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menerima audiensi Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI) untuk membahas strategi penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Dalam pertemuan tersebut, AGTI menegaskan komitmennya memperkuat daya saing industri dengan mengedepankan prinsip Ekonomi Pancasila yang menyeimbangkan produktivitas, kesejahteraan pekerja, dan keberlanjutan lingkungan.

Ketua Umum AGTI, Anne Patricia Sutanto, memaparkan roadmap penguatan daya saing nasional melalui analisis SWOT yang menyoroti potensi dan tantangan industri tekstil. Ia menjelaskan bahwa dalam dua minggu ke depan, AGTI akan mempresentasikan usulan konkret untuk mengatasi hambatan (debottlenecking) yang masih menghambat efisiensi sektor tersebut.

“Audiensi AGTI bersama Pak Menkeu dan jajaran Kemenkeu memberi angin segar bagi industri garmen dan tekstil nasional. Kami ingin membangun industri yang efisien, berdaya saing, sekaligus berkeadilan sosial sesuai prinsip Ekonomi Pancasila,” ujar Anne Patricia Sutanto. Ia menambahkan bahwa penguatan industri ini akan menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja baru melalui sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha.

Saat ini, AGTI bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) tengah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat sektor padat karya tersebut. Salah satu agenda utama adalah penyederhanaan proses perizinan industri sesuai ketentuan PP Nomor 28 tentang perizinan lingkungan hidup. Pertemuan lanjutan dengan KSSK dijadwalkan dalam waktu dekat untuk merumuskan kebijakan yang mempercepat transformasi industri tekstil nasional.

Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu memperkuat struktur industri tekstil Indonesia agar lebih tangguh menghadapi tekanan global dan menjaga keberlanjutan ekonomi nasional.

Baca Juga: “Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Moncer Tahun Ini

Pengusaha Tekstil, AGTI Dukung Pembatasan Impor Tekstil Bekas dan Dorong Industri Daur Ulang Ramah Lingkungan

Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI) menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan pemerintah yang membatasi impor produk tekstil bekas atau thrifting. Langkah ini dinilai tepat karena melindungi industri garmen lokal dari persaingan tidak sehat serta menjaga keberlanjutan ekonomi nasional.

Ketua Umum AGTI, Anne Patricia Sutanto, menjelaskan bahwa keputusan tegas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberi dampak positif bagi produsen pakaian jadi di pasar domestik. “Kami sangat mendukung keputusan Pak Purbaya. Barang impor yang sudah melalui kepabeanan tidak seharusnya beredar di pasar lokal. Industri dalam negeri perlu perlindungan agar bisa tumbuh,” ujar Anne.

Selain itu, AGTI juga mengembangkan solusi daur ulang berbasis poliester. Tujuannya untuk menekan limbah dan meningkatkan daya saing ramah lingkungan. Upaya ini sejalan dengan tren global menuju industri hijau dan ekonomi sirkular. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, industri tekstil Indonesia kini menyerap lebih dari 3,5 juta tenaga kerja. Sektor ini juga menjadi penyumbang ekspor nonmigas terbesar kelima pada tahun 2024.

Lebih lanjut, Anne menyampaikan optimisme terhadap kondisi industri garmen nasional yang terus berkembang. “Tidak ada PHK. Justru kami menambah kapasitas produksi dan merekrut tenaga kerja baru. Bahkan salah satu anggota AGTI akan segera membuka pabrik baru,” jelasnya.

Ke depan, AGTI berencana melakukan roadshow ke berbagai daerah untuk memperkuat sinergi antara pelaku usaha, pemerintah daerah, dan pekerja. Dengan demikian, kolaborasi berbasis semangat Ekonomi Pancasila dapat memperkuat daya saing nasional. “Jika semua elemen bersatu, daya saing industri tekstil Indonesia bisa meningkat dua kali lipat,” tegas Anne.

Baca Juga: “Passive Income dari Investasi Properti: Hunian Strategis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *