interpnn– Harga emas dunia kehilangan momentum setelah The Federal Reserve memulai siklus pelonggaran secara hati-hati. Logam mulia gagal bertahan di atas level psikologis USD 3.700 per ons. Kondisi ini menimbulkan spekulasi pasar terkait arah harga emas dalam beberapa pekan mendatang.
Para analis menjelaskan, meskipun ada potensi aksi ambil untung jangka pendek, dukungan fundamental emas masih cukup kuat. Faktor utama pendukungnya adalah ketidakpastian ekonomi global dan ekspektasi perlambatan pertumbuhan di Amerika Serikat. Investor juga masih mengandalkan emas sebagai aset lindung nilai dari inflasi.
Menurut laporan World Gold Council, permintaan emas fisik tetap stabil di Asia, terutama di India dan Tiongkok. Kedua negara tersebut berperan penting dalam menjaga permintaan global. “Pasar emas masih mendapat sokongan kuat dari permintaan fisik Asia dan ketidakpastian geopolitik,” kata seorang analis komoditas yang dikutip dari Reuters.
Di sisi lain, nilai dolar AS cenderung melemah setelah kebijakan moneter The Fed yang lebih longgar. Kondisi ini biasanya memberi ruang bagi kenaikan emas karena membuat logam mulia lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Ke depan, harga emas diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan naik jika ketidakpastian global berlanjut. Investor disarankan mencermati rilis data inflasi AS dan komentar pejabat The Fed sebagai penentu arah pasar. Dengan sentimen ini, emas tetap berpotensi menjadi instrumen investasi yang menarik di tengah gejolak ekonomi.
“Baca Juga: Beras Tertua Ditemukan di Gua Pasifik, Usianya 3.500 Tahun“
Harga Emas Catat Rekor Penutupan Mingguan di Tengah Ketidakpastian
Harga emas dunia kembali mencatatkan rekor penutupan mingguan meskipun sempat turun dari level intraday tertinggi. Berdasarkan data Kitco.com, Senin (22/9/2025), harga spot ditutup di USD 3.683,10 per ons. Angka ini naik sekitar 1% dibandingkan penutupan perdagangan pada Jumat sebelumnya.
Chief Strategy Officer BNP Paribas Fortis, Philippe Gijsels, menilai akan tetap stabil meski berfluktuasi di sekitar USD 3.600 per ons. Ia menegaskan, sulit membayangkan harga turun lebih rendah setelah The Federal Reserve memulai kembali siklus pelonggarannya. Dukungan fundamental tetap kuat sehingga koreksi dianggap sebagai peluang beli.
“Investor baru saja mulai masuk kembali ke pasar. Dengan ketidakpastian ekonomi yang besar, aksi beli agresif bisa terjadi,” kata Gijsels. Ia menambahkan, reli yang hampir 40% ini masih tergolong tahap awal pasar bullish. Potensi kenaikan harga masih terbuka lebar, seiring meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai.
Selain itu, faktor geopolitik dan tren permintaan fisik dari Asia berperan menjaga stabilitas harga. Data World Gold Council sebelumnya menunjukkan pembelian emas tetap tinggi di India dan Tiongkok. Permintaan ini membantu memperkuat posisinya sebagai aset aman di tengah kondisi global yang rapuh.
Ke depan, Gijsels memperkirakan harga dapat menembus USD 4.000 pada akhir 2025 atau awal 2026. Prediksi tersebut didorong kombinasi kebijakan moneter longgar, melemahnya dolar AS, serta meningkatnya kebutuhan diversifikasi portofolio global. Dengan sentimen positif ini, emas tetap berpotensi melanjutkan tren kenaikan jangka panjang.
Baca Juga : “Pasar Kripto Menggeliat, Altcoin Bersiap Melonjak“





Leave a Reply