interpnn – China Longgarkan Aturan resmi mencabut sejumlah pembatasan ekspor mineral penting dan material tanah jarang ke Amerika Serikat (AS). Langkah ini menjadi sinyal positif bagi hubungan dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia.
Kementerian Perdagangan China mengumumkan penangguhan kontrol ekspor atas beberapa elemen tanah jarang, material baterai litium, dan teknologi pemrosesan selama satu tahun. Kebijakan ini berlaku setelah pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump di Busan, Korea Selatan, pada 30 Oktober.
Selain itu, China juga mencabut pembatasan ekspor galium, germanium, antimon, serta material superkeras seperti berlian sintetis dan boron nitrida. Sebelumnya, aturan tersebut dianggap sebagai balasan terhadap kebijakan ekspor semikonduktor yang diberlakukan AS terhadap China.
Material tersebut dikategorikan sebagai barang dengan penggunaan ganda. Artinya, bahan ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sipil maupun militer. Selain digunakan di sektor pertahanan, mineral penting itu juga menjadi komponen utama dalam industri semikonduktor, baterai kendaraan listrik, dan teknologi tinggi lainnya.
Saat ini, China menguasai lebih dari 60 persen produksi global mineral penting. Bahkan, negara tersebut menyuplai sekitar 90 persen unsur tanah jarang di seluruh dunia. Karena itu, setiap perubahan kebijakan ekspor China berdampak besar terhadap rantai pasok internasional.
Sebagai bagian dari kesepakatan dagang terbaru, AS menyetujui penurunan tarif impor dari China sebesar 10 persen. Selain itu, Washington juga menangguhkan penerapan tarif timbal balik hingga tahun 2026. Dengan kebijakan ini, kedua negara diharapkan dapat menjaga stabilitas perdagangan dan memperkuat pasokan bahan baku strategis untuk industri teknologi masa depan.
Baca Juga: “Lansia Bukan Beban: Peran Produktif Dorong Pembangunan Sosial“
China Longgarkan Aturan Tapi China Perketat Aturan Ekspor Tanah Jarang untuk Lindungi Kepentingan Nasional
Pemerintah China kembali memperketat aturan ekspor tanah jarang dan teknologi terkait pada Kamis (9/10/2025). Langkah ini menandai upadya Beijing untuk mengontrol distribusi mineral strategis yang berperan penting dalam industri global.
Kebijakan baru tersebut menargetkan teknologi yang digunakan dalam produksi dan pemrosesan tanah jarang, terutama untuk keperluan militer serta semikonduktor. Menurut laporan CNN, China saat ini menguasai sebagian besar proses pengolahan tanah jarang dunia. Material tersebut menjadi bahan utama dalam pembuatan berbagai produk, mulai dari ponsel pintar hingga jet tempur.
Langkah ini diumumkan di tengah negosiasi perdagangan antara Beijing dan Washington. Pengumuman dilakukan menjelang pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump di sela KTT APEC di Korea Selatan akhir Oktober.
Aturan baru tersebut mewajibkan izin ekspor khusus untuk teknologi penambangan, peleburan, pemrosesan tanah jarang, serta pembuatan magnet permanen. Selain itu, perusahaan asing yang menggunakan tanah jarang atau teknologi asal China juga wajib memperoleh lisensi dari Kementerian Perdagangan.
Pemerintah China menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan menjaga keamanan nasional dan melindungi kepentingan strategis negara. Tujuannya adalah mencegah penggunaan bahan mentah tersebut untuk sektor militer atau industri sensitif tanpa izin resmi.
China diketahui menguasai sekitar 90 persen pasokan global unsur tanah jarang. Karena itu, kebijakan baru ini dapat berdampak besar pada rantai pasok dunia, terutama bagi industri semikonduktor dan energi hijau. Analis menilai langkah ini menunjukkan bagaimana China memanfaatkan dominasinya di sektor mineral sebagai alat diplomasi ekonomi dan strategi geopolitik di masa depan.
Baca Juga: “OpenAI Luncurkan Fitur diSora Video AI dengan Hewan Peliharaan“





Leave a Reply