AI Picu Lesunya Lowongan Kerja, The Fed Angkat Bicara
interpnn- Ketua The Federal Reserve, Jerome Powell, menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) kini memberi dampak signifikan pada pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Pernyataan itu muncul setelah bank sentral resmi menurunkan suku bunga acuan sebagai langkah penyesuaian terhadap kondisi ekonomi terkini.
Data terbaru Departemen Tenaga Kerja menunjukkan penambahan hanya 22.000 pekerjaan pada Agustus 2025. Angka itu merosot tajam dibanding Juli 2025, yang masih mencatat 79.000 pekerjaan baru. Perlambatan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa teknologi otomatisasi dan AI mulai menggantikan banyak peran tradisional.
Powell menekankan, meski AI membawa peluang besar bagi produktivitas, transisi tersebut menimbulkan tantangan nyata bagi penciptaan lapangan kerja baru. Ia menyebut perlunya kebijakan adaptif agar tenaga kerja tidak tertinggal. “AI adalah inovasi penting, namun kita harus mengelola dampaknya pada pekerjaan,” ujar Powell dalam konferensi pers usai pengumuman kebijakan suku bunga.
Sejumlah ekonom juga menilai, pergeseran pasar kerja akibat AI bisa memperlebar kesenjangan keterampilan. Pekerja dengan kemampuan digital akan lebih diuntungkan, sementara sektor padat karya berisiko mengalami penurunan permintaan. Tren ini sejalan dengan laporan McKinsey 2025 yang memproyeksikan sekitar 30% pekerjaan di AS berpotensi terdampak otomatisasi dalam sepuluh tahun ke depan.
Ke depan, pemerintah dan pelaku industri dipandang perlu mempercepat program pelatihan ulang tenaga kerja. Langkah ini penting untuk memastikan keseimbangan antara pemanfaatan AI dan ketersediaan lapangan kerja yang inklusif.
Baca Juga : “Pengangguran Melonjak di Era Otomatisasi, Apa Solusinya?“
Riset Ungkap Dampak AI Terhadap Menurunnya Kesempatan Kerja Generasi Muda
Sejumlah penelitian terbaru memperkuat pandangan bahwa kecerdasan buatan (AI) berperan dalam berkurangnya kesempatan kerja bagi generasi muda Amerika Serikat. Bukti ini menegaskan peringatan Jerome Powell mengenai dampak teknologi terhadap pasar tenaga kerja.
Awal 2025, The New York Fed merilis laporan tentang kondisi tenaga kerja berusia 22 hingga 27 tahun. Laporan tersebut menyebutkan situasi kerja bagi kelompok usia ini telah “memburuk secara nyata,” terutama pada bidang rentan otomatisasi.
Temuan serupa juga dipublikasikan oleh peneliti Stanford pada Agustus 2025. Studi itu menunjukkan pekerja muda berusia 22 hingga 25 tahun menghadapi penurunan kesempatan karier yang signifikan. Penurunan terutama terjadi pada sektor pekerjaan administratif, analisis data sederhana, hingga layanan pelanggan.
“Pekerja muda yang baru lulus kini harus bersaing tidak hanya dengan senior mereka, tetapi juga dengan sistem AI,” jelas salah satu peneliti Stanford. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa tantangan pasar tenaga kerja semakin kompleks di era digital.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran jangka panjang, terutama mengenai masa depan lulusan baru yang hendak memasuki dunia kerja. Jika tren berlanjut, kesenjangan antar-generasi dalam akses kerja bisa semakin melebar.
Para pakar merekomendasikan investasi lebih besar dalam pendidikan digital dan keterampilan berbasis teknologi. Program pelatihan ulang serta kurikulum yang adaptif dipandang penting agar generasi muda mampu beradaptasi dengan perubahan yang dipicu AI.
Baca Juga : “Patrick Kluivert Ingatkan Timnas Waspada Chinese Taipei“